Senin, 16 Maret 2020
Filsafat Islam
Rabu, 06 November 2019
Selasa, 15 Oktober 2019
- Jelaskan pengertian Filsafat ilmu dan ruang lingkup pembahasannya ! Apa manfaat mempelajari filsafat ilmu? sebutkan !
- Banyak sekali pengetahuan yang kita peroleh di berbagai media, baik cetak maupun elektronik namun tidak semua pengetahuan yang kita peroleh memiliki kebenaran, jelaskan bagaimana cara saudara untuk mengetahui dan membedakan pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang tidak benar !
- Salah satu sumber pengetahuan adalah intuisi, bagaimana intuisi sebagai sumber pengetahuan dibenarkan ?
- Apa yang dimaksud dengan " logika pengetahuan" ? Jelaskan
Rabu, 18 September 2019
PENARIKAN MAHASISWA KKN UIN RADEN INTAN 2019 DESA KERTOSARI
Selasa, 17 September 2019
KERTOSARI
Senin, 31 Desember 2018
TAHUN BARU
SEMOGA TAHUN INI LEBIH BAIK DARI TAHUN 2018
SEGALA KEKURANGAN DIPENUHI
TINGGALKAN YANG BURUK MENUJU YANG BAIK
Kamis, 12 September 2013
Sabtu, 08 Oktober 2011
Ciri berpikir filsafat
Selasa, 02 Agustus 2011
Kampung Pulo Garut
KAMPUNG PULO
A. Sejarah Kampung Pulo
Kampung pulo merupakan suatu perkampungan yang terdapat di dalam pulau di tengah kawasan Situ Cangkuang. Kampung Pulo ini sendiri terletak di Desa Cangkuang, Kampung Cijakar, kecamatan Leles, Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat.
Menurut cerita rakyat, masyarakat Kampung Pulo dulunya beragama Hindhu, laul Embah Dalem Muhammad singgah di daerah ini karena ia terpaksa mundur karena mengalami kekalahan pada penyerangan terhadap Belanda. Karena kekalahan ini Embah Dalem Arif Muhammad tidak mau kembali ke Mataram karena malu dan takut pada Sultan agung. Beliau mulai menyebarkan agama Islam pada masyarakat kampong Pulo. Embah Dalem Arif Muhammad beserta kawan-kawannya menetap di daerah Cangkuang yaitu Kampung Pulo. Sampai beliau wafat dan dimakamkan di kampumg Pulo. Beliau meninggalkan 6 orang anak Wanita dan satu orang pria. Oleh karena itu, dikampung pulo terdapat 6 buah rumah adat yang berjejer saling berhadapan masing- masing 3 buah rumah dikiri dan dikanan ditambah dengan sebuah mesjid. Jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi serta yang berdiam di rumah tersebut tidak boleh lebih dari 6 kepala keluarga. Jika seorang anak sudah dewasa kemudian menikah maka paling lambat 2 minggu setelah itu harus meninggalkan rumah dan harus keluar dari lingkungan keenam rumah tersebut. Walaupun 100 % masyarakat kampong Pulo beragama Islam tetapi mereka juga tetap melaksanakan sebagian upacara ritual hindhu.
B.Letak Geografis
Desa Cangkuang terletak kurang lebih pada jarak 2 Km dari ibu kota Kecamatan, yaitu dilalui oleh jalan PUK (Pekerjaan umum Kabupaten), terletak di Kampung Cangkuang. Batas Desa Cangkuang sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Neglasari Kecamatan Kadungora. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Karang Anyar dan Desa Tambaksari Leuwigoo. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Margaluyu dan Desa Sukarame kecamatan Leles. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Talagasari Kecamatan Kadungora dan Desa Leles Kecamatan Leles.[1]
1. Letak Desa Cangkuang Kecamatan Leles
Desa Cangkuang secara administratif berada di wilayah Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Termasuk zona tengah (zone depresi) merupakan bagian tenggara zone Bandung, dimana bagian ini merupakan wilayah paling selatan dari zone tengah yang secara morpologis termasuk daerah dataran tinggi sekitar 600-700 m dari permukaan laut. Desa Cangkuang berada di ketinggian 675 m dari permukaan laut.
Desa Cangkuang letaknya di sebelah utara Garut, jaraknya 17 km dari Garut atau 46 km dari Bandung, sedangkan ke kecamatan Leles berjarak 2 km.[2]
Jadi desa Cangkuang ini terletak di antara kota bandung dan Garut, dari Leles masuk ke Desa Cangkuang kurang lebih berjarak 3 km, dengan jalan beraspal dan dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun empat, bahkan ke desa Cangkuang tersebut masih dipertahankan angkutan tradisional delman.
2. Keadaan Iklim
Iklim kabupaten Garut terutama Leles termasuk dalam penggolongan iklim AF (f:feuch) yang berarti lembah, yaitu iklim hujan tropis dengan hujan sepanjang tahun (tiap bulan ada hari-hari hujan). Suhu rata rata di daerah ini 21,5 sampai 23 derajat celcius.
Angka curah hujan di desa Cangkuang umumnya antara 1.800 mm-2.000 mm/tahun, jumlah hari hujan rata-rata dalam setahun ada 122 hari dan Januari merupakan bulan yang paling banyak jumlah hari hujannya.
3. Luas Wilayah
Desa Cangkuang terdiri dari bukit, dan dataran dengan perbandingan 15% tanah berbukit, dan 85% tanah dataran yang meliputi luas keseluruhan 340,755 Ha terdiri dari: sawah seluas 146.500 Ha dan daratan 89 Ha.[3]
4. Keadaan Penduduk Kampung Pulo
Kampung pulo merupakan kampung kecil, terdiri dari enam buah rumah dan enam kepala keluarga. Keadaan demikian bukan hanya sekarang melainkan sejak dulu dan sudah merupakan ketentuan adat bahwa jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam.
Oleh karena itu bagi kampung pulo sukar atau lama untuk berkembang, baik rumahnya maupun penduduknya dari keenam keluarga itu terdiri:
Tabel no 1 , jumlah penduduk Kampung Pulo[4]
| No | Jenis Kelamin | Jumlah | Keterangan |
| 1 2 | Laki-laki Perempuan | 10 11 | |
| | Jumlah | 21 | |
Dari hasil sensus tersebut ternyata bahwa penduduk kampung Pulo lebih banyak perempuan dari pada laki-laki dengan perbandingan 10-11.
5. Adat istiadat Kampung Pulo
Dalam adat istiadat Kampung Pulo terdapat beberapa ketentuan yang masih berlaku hingga sekarang yaitu :
a) Dalam berziarah kemakam-makam harus mematuhi beberapa syarat yaitu berupa bara api, kemenyan, minyak wangi, bunga-bungaan dan cerutu. Hal ini dipercaya untuk mendekatkan diri (peziarah) kepada roh-roh para leluhur.
b) Dilarang berjiarah pada hari rabu, bahkan dulu penduduk sekitar tidak diperkennankan bekerja berat,begitu pula Embah Dalem Arif Muhammad tidak mau menerima tamu karena hari tersebut digunakan unutk mengajarkan agama. Karena menurut kepercayaan bila masyarakat melanggarnya maka timbul mala petaka bagi masyarakat tersebut.
c) Bentuk atap rumah selamanya harus mamanjang (jolopong)
d) Tidak boleh memukul Gong besar
e) Khusus di kampong pulo tidak boleh memelihara ternak besar berkaki empat seperti kambing, kerbau, sapi dan lain-lain.
f) Setiap tanggal 14 bulan Maullud mereka malaksanakan upacara adapt memandikan benda-benda pusaka seperti keris, batu aji, peluru dari batu yang dianggap bermakna dan mendapat berkah. Yang berhak menguasai rumah- rumah adapt adalah wanitadan diwariskan pula kepada anak perempuannya. Sedangkan bagi anak laki-laki yang sudah menikah harus meninggalkan kampong tersebut setelah 2 minggu.
Keterangan Denah Komplek Rumah Adat Kampung Pulo :
1. Rumah Kuncen
2. Rumah Adat
3. Rumah Adat
4. Rumah Adat
5. Rumah Adat
6. Rumah Adat
7. Mesjid Kampung Pulo
Sabtu, 09 April 2011
Akan Datang suatu masa
Suatu ketika nanti orang berhaji ada 4 golongan:
- Pejabat dan penguasa: Mereka menjalankan ibadah haji tetapi hanya sebagai plesiran dan turisme belaka
- Pedagang : Mereka menjalankan ibadah haji tetapi hanya untuk kepentingan bisnis belaka
- orang miskin : mereka berhaji tetapi hanya untuk mengemis
- Ulama: mereka berhaji hanya untuk popularitas saja
Kamis, 31 Maret 2011
Menjadi Manusia yang sadar
Menjadi manusia yang sadar adalah sebuah proses mensyukuri akan nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada manusia. Sementara mengingkari nikmat Tuhan adalah proses menjatuhkan kemanusiaanya dan membunuh kesadarannya. Inkar nikmat adalah kafir dan kafir merupakan penolakan terhadap rasa ketuhanan dalam diri manusia.
Ruang Lingkup Aqidah
- Ilahiyat : segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan
- Nubuwat : Segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi-nabi dan rasul-rasul, kitab-kitab Suci, Mu'jizat, keramat dan lain sebagainya
- Ruhaniyat : segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti Malaikat, jin dan roh
- Sam'iyat: segala sesuatu yang hanya diketahui dari sam'i 9dalil naqli) seperti barzakh, akhirat, azab kubur, taqdir dan lain sebagainya
Kamis, 16 Desember 2010
Mari berhijrah
Mari kita bersyukur atas kesempatan yang diberikan kepada kita
- Kesempatan hidup
- Kesempatan berprestasi
- Kesempatan memperbaiki diri
- Kesempatan bertaubat
Rabu, 01 Desember 2010
Tasawuf
B. PENGERTIAN TASAWUF
Secara etimologi ada beberapa pendapat tentang asal-usul kata tasawuf. Ada yang mengatakan tasawuf berasal dari kata safa’, artinya suci, bersih, murni. Memang, jika dilihat dari segi niat ataupun tujuan dari setiap tindakan dan ibadah kaum sufi, maka jelas bahwa semua itu dilakukan dengan niat suci untuk membersihkan jiwa dalam mengabdi kepada Allah SWT. Beberapa orang, kata al-Kalabadzi, mengatakan: “para sufi dinamakan demikan karena kemurnian hati dan kebersihan tindakan mereka.” Bisyr ibn al-Haris mengatakan:”Sufi adalah orang yang hatinya tulus terhadap Allah.” Yang lain mengatakan: “Sufi adalah orang tulus terhadap Allah dan mendapat rahmat tulus pula daripadaNya.” (Al-Kalabadzi, 1969:1) Tetapi, bila istilah sufi berasal dari safa’, maka bentuk yang tepat, seharusnya safawi. Ada lagi yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata saff, artinya saf atau baris. Mereka dinamakan sebagai sufi, karena berada pada baris (saff) pertama di depan Allah, karena besarnya keinginan mereka akan Dia, kecenderungan hati mereka terhadapNya dan tinggalnya di bagian-bagian rahasia dalam diri mereka di hadapanNya. Akan tetapi bila istilah sufi mengacu kepada kata saff, maka bentuk seharusnya menjadi saffi, bukan sufi.
Ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata suffah atau suffah al-masjid, artinya serambi masjid. Istilah ini dihubungkan dengan suatu tempat di Mesjid Nabawi yang didiami oleh sekelompok para sahabat Nabi yang sangat fakir dan tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka dikenal sebagai ahli suffah. Mereka adalah orang yang menyediakan waktunya untuk berjihad dan berdakwah serta meninggalkan usaha-usaha yang bersifat duniawi. Jelasnya, mereka dinamakan sufi karena sifat-sifat mereka menyamai sifat-sifat orang-orang yang tinggal di serambi masjid (suffah) yang hidup pada masa Nabi SAW. (Al-Kalabadzi, 1969:1) Mereka telah meninggalkan dunia ini, terpisah dari rumah dan meninggalkan teman-teman mereka. Mereka mengambil barang duniawi hanya sekedarnya untuk menutupi ketelanjangan dan menenangkan perut mereka yang lapar. Salah satu dari mereka ditanya: “Siapakah sufi itu?” Ia menjawab: “Dia yang tidak memiliki atau dimiliki.” Maksudnya adalah bahwa ia bukan budak dari keinginan. Yang lain berkata: “Sufi adalah orang yang tidak memiliki apa-apa, atau kalau ia memiliki sesuatu ia mempergunakannya sekedarnya.” Tetapi, kalau istilah sufi berasal dari kata suffah, maka bentuknya yang benar menjadi suffi, bukan sufi.
Sementara yang lain mengatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata suf, yaitu bulu domba atau wol. Mereka tidak memakai pakaian yang halus disentuh atau indah dipandang, untuk menyenangkan dan menentramkan jiwa. Mereka memakai pakaian hanya untuk menutupi ketelanjangan mereka dengan bahan yang terbuat dari kain kasar, suf (wol kasar). Bila kata sufi merupakan turunan dari suf dapat diterima, maka kata sufi ini tepat dari sudut pandang etimologis dan tata bahasa. Al-Kalabadzi berpendapat, bahwa jika kata sufi berasal dari kata suf ini dapat diterima, maka ia tepat menurut gramatika bahasa Arab; dan sekaligus memiliki semua makna seperti mengelak atau cenderung menjauhkan diri dari dunia, meninggalkan tempat tinggal yang telah mapan, terus-menerus melakukan pengembaraan, menolak kesenangan jasmani, memurnikan tingkah laku, membersihkan kesadaran, meluaskan ilmu dan sifat kepemimpinan. (Al-Kalabadzi, 1969:29-30)
Mulanya sebutan sufi yang mengacu pada kata suf dikenakan pada orang-orang Islam yang hidup seperti pertapa (asketis), meniru kehidupan para biarawan Nasrani. Orang-orang tersebut biasanya mengenakan pakaian dari anyaman bulu domba yang kasar, sebagai tanda tobat dan kehendaknya untuk meninggalkan kehidupan duniawi.(Nicholson, 1975:3-4)
Memang, pada mulanya para sufi dalam kenyataannya adalah seperti pertapa dan lebih banyak berdiam diri, ketimbang seorang mistikus. Dengan kesadaran yang luar biasa untuk menghindari dosa, digabungkan dengan rasa takut yang sukar dibayangkan terhadap hari kiamat dan siksa neraka, sebagaimana telah digambarkan secara gamblang di dalam al-Qur’an, akhirnya mereka amat terdorong untuk mpenyelamatan sejak di dunia ini.
Menurut al-Kalabadzi, mereka yang menisbahkan orang-orang sufi dengan orang-orang yang tinggal di serambi masjid dan dengan bulu domba, menampakkan aspek lahiriah keadaan mereka, sebab mereka adalah orang-orang yang telah meninggalkan dunia ini, pergi dari rumah dan sahabat- sahabat mereka. Mereka berkelana ke seluruh negeri, mereka mengambil benda-benda dunia hanya asal cukup untuk menutupi ketelanjangan mereka dan menghilangkan kelaparan. Karena itu, mereka dinamakan “orang-orang asing”, karena banyaknya pengembaraan yang mereka lakukan, mereka dinamakan “pengembara”; karena perjalanan mereka di padang pasir dan pengungsian mereka di gua-gua pada waktu terdesak, orang-orang tertentu di negeri itu menamai mereka syikaftis, sebab kata syikaft dalam bahasa mereka (orang-orang Persia) berarti gua atau gua besar. Orang-orang Syiria menamai mereka “orang-orang yang lapar”, sebab mereka hanya makan asal cukup untuk mempertahankan hidup. (Al-Kalabadzi, 1969:25-26)
Menurut Nocholson, dengan melihat asal-usul kata, serta sumbernya dari bahasa Arab, yang artinya “kemurnian”, atau membawa kepada pengertian, bahwa orang sufi adalah orang yang “murni hatinya” atau insan”yang terpilih. Namun demikian, katanya, beberapa sarjana Eropa berpendapat bahwa asal-usul kata tersebut adalah sophos (bahasa Yunani), dalam pengertian sebagaimana pada kata theosophy, yang artinya kebijaksanaan. (Nicholson, 1975:3-4)
Jirji Zaidan, yang juga berkeyakinan bahwa ada hubungan kalimat Arab ini (tasawuf) dengan kalimat Yunani tersebut, beralasan karena ilmu mereka (orang Islam) belum lagi muncul dan mereka belum dikenal dengan sifat ini, kecuali setelah masa penerjemahan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab.
Menurut Ibrahim Basyuni, pendapat dan alasan tersebut kurang tepat, karena huruf sigma Yunani disamakan/ditransliterasikan dengan sin Arab pada semua kalimat Yunani yang diArabkan, bukan dengan huruf sad. Jadi kalau sufi asalnya dari Yunani maka mencantumkan huruf sad(pada awalnya) tidak sesuai dengan ketentuan seharusnya. Seharusnya huruf sin sebagaimana kelihatan dalam kata falsafah dari kata philosophia.(Ibrahim Basyuni, 1969:10)
Meskipun secara terminology para ulama berbeda pendapat tentang tentang arti serta asal-usul kata tasawuf, namun yang paling tepat adalah berasal dari kata suf (bulu domba), baik dilihat dari konteks kebahasaan, sikap kesederhanaan, maupun aspek kesejarahan. Orang-orang sufi ingin hidup sederhana dan menjauhi keduniaan, sehingga mereka hidup sebagai orang-orang miskin dengan memakai kain kasar tersebut.
Melihat dari banyaknya definisi tasawuf yang masing-masing sesuai dengan subyektivitas sufi, Ibrahim Basyuni mengklasifikasikan definisi tasawuf menjadi tiga varian yang menunjukkan elemen-elemen. Pertama, al-Bidayah, kedua, al-Mujahadah, dan ketiga, al-Mazaaqat. (Ibrahim Basyuni, 1969:10)
Elemen pertama adalah al-Bidayah (pemula) mengandung arti bahwa secara fitri manusia sadar bahwa semua orang tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Karena dibalik yang ada terdapat Realitas Mutlak. Oleh karena itu muncul dorongan dari dalam diri manusia untuk mendekatiNya. Elemen ini dapat disebut sebagai kesadaran tasawuf. Ma’ruf al-Karkhi mengatakan bahwa tasawuf adalah: “Mencari yang hakikat, dan berlepas diri dari apa yang ada di tangan makhluk. Barang siapa yang belum bersungguh-sungguh dengan kefakiran, maka berarti belum bersungguh-sungguh dalam bertasawuf.” Sedangkan Abu Turab al-Nakhsabi mengatakan, “sufi ialah orang yang tidak ada sesuatupun yang mengotori dirinya dan dapat membersihkan segala sesuatu.” Dan menurut Sahal al-Tustury “ seorang sufi ialah orang yang hatinya bersih dari kotoran, penuh pemikiran yang terpusat pada Tuhan , terputus hubungan dengan manusia, dan memandang sama antara emas dan kerikil.
Elemen kedua, al-Mujahadah, sebagai unsur perjuangan keras, karena adanya jarak antara manusia dan Realitas Mutlak yang mengatasi semua yang ada. Bukan jarak fisik tetapi jarak ruhani yang penuh rintangan dan hambatan, sehingga diperlukan kesungguhan dan perjuangan keras untuk dapat menempuh jarak dan jalan tersebut dengan cara menciptakan kondisi tertentu untuk mendekatkan diri kepada Realitas Mutlak. Elemen ini dapat disebut sebagai tahap perjuangan tasawuf. Dalam kondisi ini seorang sufi berupaya menghias diri dengan apa yang baik menurut lingkungan (al-ma’ruf), maupun menurut agama yang bersifat normatif (al-khair). Menurut Abu Muhammad al-Jariri bahwa tasawuf ialah : “masuk ke dalam akhlak yang mulia dan keluar dari semua akhlak yang hina.”(Al-Qusyairi, 1940:138) Hampir sama dengan pengertian tersebut al-Kanani mengatakan bahwa : “ Tasawuf adalah akhlak mulia. Barang siapa yang bertambah baik akhlaknya, maka bertambah pula kejernihan hatinya.” (Al-Qusyairi, 1940:138) Sedangkan menurut Abu Muhammad Ruwaim mengatakan bahwa “Tasawuf terdiri dari tiga perangai: berpegang pada kefakiran dan mengharap Allah, merendahkan diri dan mendahulukan orang lain dengan tidak menonjolkan diri dan meninggalkan usaha.” (Al-Qusyairi, 1940:138)
Untuk mencapai tujuan tasawuf, seseorang harus melakukan berbagai kegiatan (al-mujahadah dan Riyadhah), tidak dibenarkan memisahkan amaliah- amaliah keruhania dengan syari’at agama Islam. Dalam pengertian kedua (dari sisi al-Mujahadah) tasawuf mempunyai pengertian berjuang, menundukkan hawa nafsu atau keinginan. Maka pada pengertian tasawuf pada elemen ketiga al-Mazaqat, mengandung arti bahwa seorang sufi telah lulus mengatasi hambatan untuk mendekati Realitas Mutlak, sehingga dapat berkomunikasi dan berada sedekat mungkin di hadlirat-Nya serta akan merasakan kelezatan spiritual yang didambakan. Tahap ini dapat disebut tahap pengamalan atau penemuan “mistik”. Tasawuf pada tingkat ini lebih dititikberatkan pada rasa serta kesatuan dengan Yang Mutlak, sebagaimana dikatakan oleh Al-Junaid al-Bagdadi, tasawuf ialah bahwa engkau bersama Allah tanpa ada penghubung. Menurut Ruwaim pada elemen ini tasawuf ialah, membiarkan diri dengan Allah menurut kehendaknya. (Al-Qusyairi, 1940:138)
Dengan demikian dapat diungkapkan secara sederhana bahwa tasawuf ialah kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung antara seorang muslim dengan Tuhan. Tasawuf merupakan suatu sistem latihan dengan penuh kesungguhan (riyadhah- mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi dan memperdalam nilai-nilai keruhanian dalam rangka mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah, sehingga dengan cara itu, segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya.
Rabu, 24 November 2010
Pendidikan Agama Islam 2
- Sudahkah anda beragama?Apa alasan anda beragama?
- Kalau sudah, mengapa anda masih melanggar perintah agama?
- Kapan anda akan melaksanakan perintah agama secara totalitas 'kaffah'?
Jumat, 19 November 2010
Berkurban 2
Anak-anak tak kalah sibuknya dengan orang dewasa, mereka menyelinap dibalik kerumunan orang-orang untuk menyaksikan hewan-hewan kurban tersebut disembelih. Ada seorang anak yang menangis dan menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya, tetapi terkadang merenggangkan jari-jemarinya dan melihat ke arah hewan yang disembelih. Seorang bocah dengan suara yang lantang meneriaki kawannya" awas... ojo cedhak-chedak ! mengko disrudhuk bandot kowe" katanya, jangan dekat-dekat! nanti kamu diseruduk kambing besar. Bandot adalah sebutan untuk kambing jantan yang memiliki tubuh besar dan perkasa dan biasa dipakai sebagai pejantan yang unggul.
satu persatu hewan-hewan kurban itu menghembuskan nafasnya yang terakhir di tangan kakekku. Yang terakhir adalah seekor sapi putih besar yang aku beli bersama kakek di pasar hewan. Tak perlu butuh waktu lama untuk menjagal 4 ekor kambing dan seekor sapi, hanya dalam waktu 2 jam semuanya selesai disembelih dan dikuliti. Seluruh laki-laki dewasa dan remaja di kampungku ikut membantu pelaksanaan kurban. Para ibu-ibu pun sibuk menyiapkan berbagai hidangan dan minuman untuk para bapak-bapak dan seluruh yang membantu.
Akhirnya daging-daging yang sudah dipotong-potong dibagi-bagikan kepada seluruh penduduk di kampungku, wajah mereka begitu bersuka cita karena mereka berkesempatan makan daging walaupun hanya setahun sekali.
Rabu, 17 November 2010
Di balik sisi yang lain
Berkurban secara syar'i adalah menyembelih hewan berupa sapi atau kambing pada hari raya Idul adha dan pada hari tasyrik (11,12,13 Dzul Hijjah), tetapi apa yang aku maknai sekarang berkurban adalah mengurbankan segala kenikmatan yang dimiliki untuk kepentingan orang banyak. Berkurban juga berani memberikan apa yang paling dicintai jika diminta oleh Allah.
Aku pernah mendengar, bahwa berkurban adalah memotong nafsu hayawaniyah yang ada pada diri manusia, supaya manusia bisa mengendalikan nafsunya dan menjadi qurban yang diambil dari kata "qoroba" yang artinya dekat. Berkurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Sudahkah anda berani dan ikhlas mengorbankan kenikmatan pribadi anda untuk orang banyak?
Jumat, 12 November 2010
Mari berpikir
2. Apa saja yang anda Pikirkan?
3. Apakah yang saudara pikirkan itu termasuk filsafat?
4. Apa untungnya saudara berfilsafat?
Antara ilmuwan dan alim
"Ilmu Pengetahuan" dengan demikian memiliki arti "pengetahuan-pengetahuan" atau terjadi pengulangan bahasa, pertama "ilmu" dan kedua "pengetahuan". Dalam bahasa Inggris "pengetahuan" disebut " Knowledge" dan "Ilmu Pengetahuan" disebut "Science".
Kalau dilihat dari pelakunya, orang yang berilmu disebut"ilmuwan" menurut saya kurang tepat, sebaiknya orang yang memiliki ilmu disebut"aliim", karena orang yang memiliki ilmu tidak hanya sekedar tahu tetapi juga harus alim.
Sedangkan istilah "Alim" dalam bahasa kita diartikan orang yang memiliki pengetahuan-pengetahuan Agama dan mengamalkannya. Dengan mengartikan seperti ini berarti kita juga bisa mempertanggung jawabkan pengetahuan kita secara moral, bukan hanya kognitif belaka, sebagaimana yang dimiliki"ilmuwan".
Dalam kenyataan banyak ilmuwan yang memahami bahwa ilmu itu bebas nilai, sehingga bebas melakukan apa saja dengan ilmunya. Pada orang yang disebut "Aliim" harus membebaskan diri dari segala bentuk kesalahan-kesalahan yang dimiliki manusia dan ada usaha untuk selalu memperbaiki diri.
Terserah kepada anda, apakah mau disebut "ilmuwan" atau "alim"

