Pernahkan saudara perhatikan kumpulan-kumpulan pengetahuan yang ada, belum dikatakan "ilmu" apabila belum diikat dengan metode ilmiah, dan ketika pengetahuan-pengetahuan tersebut diikat dengan metode ilmiah baru disebut" Ilmu Pengetahuan". Adapun orang-orang yang menguasainya disebut dengan "ilmuwan". Kalau melihat pengertian " pengetahuan" secara etimologi, maka kata tersebut berasal dari bahasa Arab "'alama" yang berarti pengetahuan. Adapun orang-orang yang memiliki pengetahuan menurut bahasa Arab disebut "aliim".
"Ilmu Pengetahuan" dengan demikian memiliki arti "pengetahuan-pengetahuan" atau terjadi pengulangan bahasa, pertama "ilmu" dan kedua "pengetahuan". Dalam bahasa Inggris "pengetahuan" disebut " Knowledge" dan "Ilmu Pengetahuan" disebut "Science".
Kalau dilihat dari pelakunya, orang yang berilmu disebut"ilmuwan" menurut saya kurang tepat, sebaiknya orang yang memiliki ilmu disebut"aliim", karena orang yang memiliki ilmu tidak hanya sekedar tahu tetapi juga harus alim.
Sedangkan istilah "Alim" dalam bahasa kita diartikan orang yang memiliki pengetahuan-pengetahuan Agama dan mengamalkannya. Dengan mengartikan seperti ini berarti kita juga bisa mempertanggung jawabkan pengetahuan kita secara moral, bukan hanya kognitif belaka, sebagaimana yang dimiliki"ilmuwan".
Dalam kenyataan banyak ilmuwan yang memahami bahwa ilmu itu bebas nilai, sehingga bebas melakukan apa saja dengan ilmunya. Pada orang yang disebut "Aliim" harus membebaskan diri dari segala bentuk kesalahan-kesalahan yang dimiliki manusia dan ada usaha untuk selalu memperbaiki diri.
Terserah kepada anda, apakah mau disebut "ilmuwan" atau "alim"
Jumat, 12 November 2010
Rabu, 10 November 2010
Berkorban
Sebantar lagi hari raya Idhul Adha segera tiba, yang teringat dalam benakku ketika masih kecil dulu adalah seekor kambing disembelih dan dagingnya dibagikan kepada penduduk desa secara merata. Kakekku pernah bercerita bahwa" barang siapa yang berkurban dengan menyembelih kambing, maka kelak di akherat hewan tersebut akan menjadi tunggannya di surga", mendengar cerita kakekku aku berfikr, kalau kambing yang saya korbankan kecil, apakah kuat aku naiki? sementara badanku saja lebih besar dari kambing yang aku korbankan? bagaimana bagi mereka yang tidak pernah berkurban, berarti mereka tidak menunggangi hewan tunggangan? saya pun tidak tahu darimana pengetahuan kakekku tentang hal tersebut, rasanya saya kurang sependapat dengan kakek mengenai hal ini.
Pagi itu kakek mengajakku ke pasar hewan, dengan mengendarai sepeda motor kesayangannya DKW buatan jerman tahun 1954 kami berjalan menyusuri jalanan desa yang masih terlihat basah karena hujan semalam, beberapa orang menegur kakek dan melambaikan tangan ke arah kami, kakek membalasnya dengan membunyikan klakson motornya.
sesampainya di pasar hewan kakek membawaku ke sebuah warung sate kambing langganan kakek. kakekku sangat gemar sekali menyantap sate kambing, katanya sate kambing di warung ini dagingnya empuk dan bumbunya sangat meresap. kakekku memesan 15 tusuk sate dan 2 piring nasi putih. sambil menunggu pesanan kami selesai kakek menarik tanganku dan menuju ke tempat penjualan sapi, terlihat beberapa ekor sapi yang gemuk-gemuk dan berwarna putih, aku agak merapat ke tubuh kakek karena aku takut diseruduk sapi, kakekku bilang " ora usah wedi" (jangan takut katanya). kakekku berbincang dengan penjual sapi tersebut dan melihat lihat sapi dagangannya. belum selesai menawar penjual sate memanggil kami, bahwa sate kambing pesanan kami sudah siap. kemudian aku dan kakek kembali ke warung sate kambing, sambil makan sate kambing kakekku mengutarakan niatnya, bahwa tahun ini akan berkurban seekor sapi, mendengar penuturan kakek aku terkejut dan dan heran dan membuatku kembali teringat kata-kata kakek tentang perihal kurban." kalau begitu kek tunggangan kakek di surga nanti seekor sapi?" tanyaku." yo, nek sapi kuwi kanggo wong pitu le" katanya, maksudnya kalau sapi itu untuk orang tujuh. Aku masih bingung, kenapa kalau seekor kambing untuk satu orang, sedangkan sapi untuk tujuh orang? bukankah kambing atau sapi nyawanya juga satu....
Pagi itu kakek mengajakku ke pasar hewan, dengan mengendarai sepeda motor kesayangannya DKW buatan jerman tahun 1954 kami berjalan menyusuri jalanan desa yang masih terlihat basah karena hujan semalam, beberapa orang menegur kakek dan melambaikan tangan ke arah kami, kakek membalasnya dengan membunyikan klakson motornya.
sesampainya di pasar hewan kakek membawaku ke sebuah warung sate kambing langganan kakek. kakekku sangat gemar sekali menyantap sate kambing, katanya sate kambing di warung ini dagingnya empuk dan bumbunya sangat meresap. kakekku memesan 15 tusuk sate dan 2 piring nasi putih. sambil menunggu pesanan kami selesai kakek menarik tanganku dan menuju ke tempat penjualan sapi, terlihat beberapa ekor sapi yang gemuk-gemuk dan berwarna putih, aku agak merapat ke tubuh kakek karena aku takut diseruduk sapi, kakekku bilang " ora usah wedi" (jangan takut katanya). kakekku berbincang dengan penjual sapi tersebut dan melihat lihat sapi dagangannya. belum selesai menawar penjual sate memanggil kami, bahwa sate kambing pesanan kami sudah siap. kemudian aku dan kakek kembali ke warung sate kambing, sambil makan sate kambing kakekku mengutarakan niatnya, bahwa tahun ini akan berkurban seekor sapi, mendengar penuturan kakek aku terkejut dan dan heran dan membuatku kembali teringat kata-kata kakek tentang perihal kurban." kalau begitu kek tunggangan kakek di surga nanti seekor sapi?" tanyaku." yo, nek sapi kuwi kanggo wong pitu le" katanya, maksudnya kalau sapi itu untuk orang tujuh. Aku masih bingung, kenapa kalau seekor kambing untuk satu orang, sedangkan sapi untuk tujuh orang? bukankah kambing atau sapi nyawanya juga satu....
Selasa, 09 November 2010
Epistemologi Mbah Marijan
Menarik menyimak tulisan-tulisan tentang sang kuncen Merapi Mbah Maridjan yang belakangan santer ditulis di berbagai media cetak dan di berbagai blog di internet. Mabah Maridjan bukan satu-satunya orang yang mencoba melakukan pendekatan untuk mendapatkan pengetahuan dengan rasa. Apa yang dirasakannya kemudian dijadikan pijakan oleh-orang yang ada di sekitarnya dan kemudian dipercayai sepenuhnya sebagai suatu pengetahuan yang benar dan diikuti bahkan diyakini dengan sepenuh hati. Ketika pernyataan-pernyataan yang disampaikan Mbah maridjan tentang gunung teraktif di dunia ini tidak akan meletus pada tahun 2006 ternyata benar, semakin meyakinkan orang bahwa Mbah Maridjan tahu betul dan bahkan kenal betul dengan gunung tersebut.Peristiwa itu kemudian melambungkan nama Mbah Maridjan, sampai membawanya ke dunia advertising sebagai tokoh iklan dengan slogan" roso..roso". Pengetahuan semacam ini bukan tidak memiliki dasar, Mbah Maridjan selalu melakukan pengamatan secara langsung dan terus menerus, sehingga apa yang disampaikannya berdasarkan data-data hasil pengamatannya.
Tetapi pada erupsi merapi tahun 2010 bulan oktober kemaren, mbah Maridjan meleset dalam menyimpulkan hasil pengamatannya. Pertanyaannya apa yang salah dalam pengamatan Mbah Maridjan? atau sebenarnya Mbah Maridjan sudah tahu tapi tidak mau berpisah dan menginginkan lebur dengan Merapi, karena dalam tradisi masyarakat Jawa, ada ajaran tentang penyatuan.
Tetapi pada erupsi merapi tahun 2010 bulan oktober kemaren, mbah Maridjan meleset dalam menyimpulkan hasil pengamatannya. Pertanyaannya apa yang salah dalam pengamatan Mbah Maridjan? atau sebenarnya Mbah Maridjan sudah tahu tapi tidak mau berpisah dan menginginkan lebur dengan Merapi, karena dalam tradisi masyarakat Jawa, ada ajaran tentang penyatuan.
Minggu, 07 November 2010
Pendidikan Agama Islam
1. Apakah agama itu?
2. Mengapa saudara beragama?
3. Bagaimana pengaruh Agama terhadap perilaku saudara?
4. Bagaimana Pendapat Saudara tentang, Islam Yes, Partai Islam No?
2. Mengapa saudara beragama?
3. Bagaimana pengaruh Agama terhadap perilaku saudara?
4. Bagaimana Pendapat Saudara tentang, Islam Yes, Partai Islam No?
Kamis, 04 November 2010
Belum beragama
sungguh sulit untuk dimengerti, bahwa selama ini kita betul-betul tuli dan buta terhadap agama yang kita yakini kebenarannya.
Sebelum kita betul-betul mengerti kita tidak pernah akan memahami dan menyadari arti agama bagi kita.
terlebih memaknai dan mengamalkan isi ajarannya.
kita hanya mengolok-olok dan mengeruhkan makna agama saja.
sebaiknya pertanyakan kembali agama pada diri kita sendiri, sebelum menilai keberagamaan orang lain....
selama ini kita hanya menyeret-nyeret agama untuk pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan, bukan sebaliknya.... atau agama untuk melabeli gerakan-gerakan atas nama pribadi supaya di amini oleh orang-orang yang juga tak mengerti agama tapi enggan dikatakan kafir
Sebelum kita betul-betul mengerti kita tidak pernah akan memahami dan menyadari arti agama bagi kita.
terlebih memaknai dan mengamalkan isi ajarannya.
kita hanya mengolok-olok dan mengeruhkan makna agama saja.
sebaiknya pertanyakan kembali agama pada diri kita sendiri, sebelum menilai keberagamaan orang lain....
selama ini kita hanya menyeret-nyeret agama untuk pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan, bukan sebaliknya.... atau agama untuk melabeli gerakan-gerakan atas nama pribadi supaya di amini oleh orang-orang yang juga tak mengerti agama tapi enggan dikatakan kafir
Minggu, 17 Oktober 2010
Materi PAI
Aqidah
Sesuatu yang mengharuskan hati membenarkannya, membuat jiwa tenang, dan menjadi kepercayaan yang bersih dari kebimbangan dan keraguan, aqidah Islam dalam al-Qur’an disebut Iman
FUNGSI DAN PERANAN AQIDAH
1. Menuntun dan mengembangkan dasar ketuhanan yang dimiliki manusia
2. Memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa
3. Memberikan pedoman hidup yang pasti
TINGKATAN AQIDAH
1. Taqlid
2. Yakin
3. ‘Ainul yakin
4. Haqqul yakin
Ibadah : Penghambaan seorang manusia kepada Allah sebagai pelaksanaan tugas hidup selaku makhluk.
1. Ibadah mahdhah (ibadah khusus)
2. Ibadah ghairu mahdhah (ibadah umum)
Perintah beribadah
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾
056. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (beribadah) menyembah-Ku.
Sesuatu yang mengharuskan hati membenarkannya, membuat jiwa tenang, dan menjadi kepercayaan yang bersih dari kebimbangan dan keraguan, aqidah Islam dalam al-Qur’an disebut Iman
FUNGSI DAN PERANAN AQIDAH
1. Menuntun dan mengembangkan dasar ketuhanan yang dimiliki manusia
2. Memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa
3. Memberikan pedoman hidup yang pasti
TINGKATAN AQIDAH
1. Taqlid
2. Yakin
3. ‘Ainul yakin
4. Haqqul yakin
Ibadah : Penghambaan seorang manusia kepada Allah sebagai pelaksanaan tugas hidup selaku makhluk.
1. Ibadah mahdhah (ibadah khusus)
2. Ibadah ghairu mahdhah (ibadah umum)
Perintah beribadah
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾
056. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (beribadah) menyembah-Ku.
Selasa, 05 Oktober 2010
sawahku
Ketika sawah di desaku masih terhampar luas dan belum berganti dengan ladang tebu, sawah itu mengajari kami bagaimana saling tolong menolong, di sawah itu pun kami masih bisa berbagi dengan burung-burung pipit yang memunguti bulir-bulir padi saat setelah panen tiba. Para orang dewasa, anak-anak baik laki-laki maupun perempuan, semua berbaur menjadi satu bahu-membahu saling membantu memanen padi.
Para wanita dengan cekatan memainkan ani-ani dan memotong satu-persatu batang padi yang sudah mulai merunduk karena beban buliran padi yang begitu padat, diantaranya ada yang sambil bersenandung menyanyikan kidung jawa yang syarat dengan makna kehidupan. Sebagian yang lain sambil bercanda dan bercerita tentang keperkasaan suami mereka semalam dan tentang kenakalan anak-anak mereka yang lucu-lucu.
Para bapak mengumpulkan batang-batang padi yang telah dipotong dan mengikatnya dalam satu kesatuan yang bersusun rapi, lalu meletakkannya pada sebatang bambu pada kedua ujungnya. Bambu itu berfungsi sebagai alat untuk memikul. Orang di desaku menyebutnya pikulan. Sambil mengikat padi-padi tersebut sebagian mereka menghisap rokok kretek yang mereka buat sendiri dari racikan tembakau dan sedikit ditaburi bubuk kemenyan, sehingga ketika asap yang dihisap itu disemburkan aroma kemenyan itu langsung menusuk hidung siapa saja yang ada didekatnya. Meskipun mereka tahu bahwa rokok kelembak menyan, begitu mereka menyebutnya berbahaya bagi pernafasannya mereka tetap setia menghisapnya.
Anak-anak tampak berlarian ditengah-tengah sawah sambil sesekali berteriak saling mengejek dan penuh canda tawa. Mereka membuat seruling dengan menggunakan batang padi, ada juga yang membuat mainan berbentuk wayang dan kitiran, tampak wajah ceria mereka yang tidak pernah tahu bahwa kelak ketika mereka dewasa sawah itu telah berubah menjadi perumahan atau gudang-gudang perusahaan.
Tetapi setelah sawah itu berubah menjadi ladang tebu yang dikontrak oleh pabrik gula, ladang tebu itu mengajari kami mencuri, tebu-tebu itu membuat kami bersaing untuk mencuri dan tidak tertangkap oleh pak mandor yang menjaga tebu-tebu tersebut.
Para wanita dengan cekatan memainkan ani-ani dan memotong satu-persatu batang padi yang sudah mulai merunduk karena beban buliran padi yang begitu padat, diantaranya ada yang sambil bersenandung menyanyikan kidung jawa yang syarat dengan makna kehidupan. Sebagian yang lain sambil bercanda dan bercerita tentang keperkasaan suami mereka semalam dan tentang kenakalan anak-anak mereka yang lucu-lucu.
Para bapak mengumpulkan batang-batang padi yang telah dipotong dan mengikatnya dalam satu kesatuan yang bersusun rapi, lalu meletakkannya pada sebatang bambu pada kedua ujungnya. Bambu itu berfungsi sebagai alat untuk memikul. Orang di desaku menyebutnya pikulan. Sambil mengikat padi-padi tersebut sebagian mereka menghisap rokok kretek yang mereka buat sendiri dari racikan tembakau dan sedikit ditaburi bubuk kemenyan, sehingga ketika asap yang dihisap itu disemburkan aroma kemenyan itu langsung menusuk hidung siapa saja yang ada didekatnya. Meskipun mereka tahu bahwa rokok kelembak menyan, begitu mereka menyebutnya berbahaya bagi pernafasannya mereka tetap setia menghisapnya.
Anak-anak tampak berlarian ditengah-tengah sawah sambil sesekali berteriak saling mengejek dan penuh canda tawa. Mereka membuat seruling dengan menggunakan batang padi, ada juga yang membuat mainan berbentuk wayang dan kitiran, tampak wajah ceria mereka yang tidak pernah tahu bahwa kelak ketika mereka dewasa sawah itu telah berubah menjadi perumahan atau gudang-gudang perusahaan.
Tetapi setelah sawah itu berubah menjadi ladang tebu yang dikontrak oleh pabrik gula, ladang tebu itu mengajari kami mencuri, tebu-tebu itu membuat kami bersaing untuk mencuri dan tidak tertangkap oleh pak mandor yang menjaga tebu-tebu tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)