Selasa, 09 November 2010

Epistemologi Mbah Marijan

Menarik menyimak tulisan-tulisan tentang sang kuncen Merapi Mbah Maridjan yang belakangan santer ditulis di berbagai media cetak dan di berbagai blog di internet. Mabah Maridjan bukan satu-satunya orang yang mencoba melakukan pendekatan untuk mendapatkan pengetahuan dengan rasa. Apa yang dirasakannya kemudian dijadikan pijakan oleh-orang yang ada di sekitarnya dan kemudian dipercayai sepenuhnya sebagai suatu pengetahuan yang benar dan diikuti bahkan diyakini dengan sepenuh hati. Ketika pernyataan-pernyataan yang disampaikan Mbah maridjan tentang gunung teraktif di dunia ini tidak akan meletus pada tahun 2006 ternyata benar, semakin meyakinkan orang bahwa Mbah Maridjan tahu betul dan bahkan kenal betul dengan gunung tersebut.Peristiwa itu kemudian melambungkan nama Mbah Maridjan, sampai membawanya ke dunia advertising sebagai tokoh iklan dengan slogan" roso..roso". Pengetahuan semacam ini bukan tidak memiliki dasar, Mbah Maridjan selalu melakukan pengamatan secara langsung dan terus menerus, sehingga apa yang disampaikannya berdasarkan data-data hasil pengamatannya.
Tetapi pada erupsi merapi tahun 2010 bulan oktober kemaren, mbah Maridjan meleset dalam menyimpulkan hasil pengamatannya. Pertanyaannya apa yang salah dalam pengamatan Mbah Maridjan? atau sebenarnya Mbah Maridjan sudah tahu tapi tidak mau berpisah dan menginginkan lebur dengan Merapi, karena dalam tradisi masyarakat Jawa, ada ajaran tentang penyatuan.

Minggu, 07 November 2010

Pendidikan Agama Islam

1. Apakah agama itu?
2. Mengapa saudara beragama?
3. Bagaimana pengaruh Agama terhadap perilaku saudara?
4. Bagaimana Pendapat Saudara tentang, Islam Yes, Partai Islam No?

Kamis, 04 November 2010

Belum beragama

sungguh sulit untuk dimengerti, bahwa selama ini kita betul-betul tuli dan buta terhadap agama yang kita yakini kebenarannya.
Sebelum kita betul-betul mengerti kita tidak pernah akan memahami dan menyadari arti agama bagi kita.
terlebih memaknai dan mengamalkan isi ajarannya.
kita hanya mengolok-olok dan mengeruhkan makna agama saja.
sebaiknya pertanyakan kembali agama pada diri kita sendiri, sebelum menilai keberagamaan orang lain....
selama ini kita hanya menyeret-nyeret agama untuk pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan, bukan sebaliknya.... atau agama untuk melabeli gerakan-gerakan atas nama pribadi supaya di amini oleh orang-orang yang juga tak mengerti agama tapi enggan dikatakan kafir

Minggu, 17 Oktober 2010

Materi PAI

Aqidah

Sesuatu yang mengharuskan hati membenarkannya, membuat jiwa tenang, dan menjadi kepercayaan yang bersih dari kebimbangan dan keraguan, aqidah Islam dalam al-Qur’an disebut Iman

FUNGSI DAN PERANAN AQIDAH

1. Menuntun dan mengembangkan dasar ketuhanan yang dimiliki manusia
2. Memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa
3. Memberikan pedoman hidup yang pasti

TINGKATAN AQIDAH

1. Taqlid
2. Yakin
3. ‘Ainul yakin
4. Haqqul yakin

Ibadah : Penghambaan seorang manusia kepada Allah sebagai pelaksanaan tugas hidup selaku makhluk.
1. Ibadah mahdhah (ibadah khusus)
2. Ibadah ghairu mahdhah (ibadah umum)

Perintah beribadah
 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾
 056. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (beribadah) menyembah-Ku.

Selasa, 05 Oktober 2010

sawahku

Ketika sawah di desaku masih terhampar luas dan belum berganti dengan ladang tebu, sawah itu mengajari kami bagaimana saling tolong menolong, di sawah itu pun kami masih bisa berbagi dengan burung-burung pipit yang memunguti bulir-bulir padi saat setelah panen tiba. Para orang dewasa, anak-anak baik laki-laki maupun perempuan, semua berbaur menjadi satu bahu-membahu saling membantu memanen padi.
Para wanita dengan cekatan memainkan ani-ani dan memotong satu-persatu batang padi yang sudah mulai merunduk karena beban buliran padi yang begitu padat, diantaranya ada yang sambil bersenandung menyanyikan kidung jawa yang syarat dengan makna kehidupan. Sebagian yang lain sambil bercanda dan bercerita tentang keperkasaan suami mereka semalam dan tentang kenakalan anak-anak mereka yang lucu-lucu.
Para bapak mengumpulkan batang-batang padi yang telah dipotong dan mengikatnya dalam satu kesatuan yang bersusun rapi, lalu meletakkannya pada sebatang bambu pada kedua ujungnya. Bambu itu berfungsi sebagai alat untuk memikul. Orang di desaku menyebutnya pikulan. Sambil mengikat padi-padi tersebut sebagian mereka menghisap rokok kretek yang mereka buat sendiri dari racikan tembakau dan sedikit ditaburi bubuk kemenyan, sehingga ketika asap yang dihisap itu disemburkan aroma kemenyan itu langsung menusuk hidung siapa saja yang ada didekatnya. Meskipun mereka tahu bahwa rokok kelembak menyan, begitu mereka menyebutnya berbahaya bagi pernafasannya mereka tetap setia menghisapnya.
Anak-anak tampak berlarian ditengah-tengah sawah sambil sesekali berteriak saling mengejek dan penuh canda tawa. Mereka membuat seruling dengan menggunakan batang padi, ada juga yang membuat mainan berbentuk wayang dan kitiran, tampak wajah ceria mereka yang tidak pernah tahu bahwa kelak ketika mereka dewasa sawah itu telah berubah menjadi perumahan atau gudang-gudang perusahaan.
Tetapi setelah sawah itu berubah menjadi ladang tebu yang dikontrak oleh pabrik gula, ladang tebu itu mengajari kami mencuri, tebu-tebu itu membuat kami bersaing untuk mencuri dan tidak tertangkap oleh pak mandor yang menjaga tebu-tebu tersebut.

Jumat, 04 Juni 2010

PELATIHAN MULTI MEDIA

PELATIHAN MULTI MEDIA KERJASAMA UM LAMPUNG DENGAN SEAMEO SEMOLEC

Sabtu, 01 Mei 2010

Renungan surat Al-Jumuah

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim.

Sama halnya dengan orang-orang Islam yang tidak mau membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur'an adalah seperti keledai.